Transportasi berkelanjutan harus memberikan akses yang setara bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas, namun banyak kota di Indonesia masih kekurangan fasilitas penting seperti ramp, guiding block, handrail, kursi prioritas, dan informasi audio-visual. Berbagai studi menunjukkan bahwa halte, trotoar, dan sarana transportasi publik belum memenuhi standar aksesibilitas sehingga menyulitkan mobilitas mandiri bagi penyandang disabilitas. Untuk menciptakan sistem transportasi yang inklusif, diperlukan perencanaan yang mengutamakan keamanan, kenyamanan, keselamatan, kesetaraan, serta penerapan best practice, termasuk penyediaan halte dan pedestrian yang terhubung, jalur landai, ruang kursi roda, serta layanan BRT yang ramah disabilitas. Pemerintah juga harus mengintegrasikan konsep kota inklusif ke dalam dokumen perencanaan seperti RTRW, RDTR, RTBL, dan Tatralok, memperkuat regulasi, meningkatkan sarana prasarana, menata ruang publik, serta melibatkan komunitas disabilitas agar fasilitas yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan. Dengan langkah tersebut, transportasi berkelanjutan dapat mendukung mobilitas yang lebih aman, nyaman, dan setara bagi semua pengguna.
PERENCANAAN AKSESIBILITAS TRANSPORTASI BERKELANJUTAN BAGI PENYANDANG DISABILITAS
25 Nov. 2025, 8.49 | 19x dilihat