Indonesian English

Kepala BPTJ Inspeksi Pool Bus, Satu Sopir Dilarang Berangkat

Sabtu, 31 Desember 2016 00:00 Admin1
Cetak

bptj nataru2017

JAKARTA - Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Elly Adriani Sinaga, Jumat (30/12), kembali pengawasan lancarnya angkutan masa liburan panjang dengan meninjau langsung pelaksanaan pemberangkatan penumpang di beberapa pool bus di Jabodetabek.

Berangkat dari kantornya di Jl. MT Haryono Kav 45-46, Elly beserta rombongan melihat kesiapan awak bus dan sarananya, serta fasilitas penumpang dan awak di pool Bus Primajasa Cawang dan Pool Bus Damri di Kemayoran Jakarta.

"Kami sengaja keliling untuk mengawasi dan memastikan lancarnya angkutan jelang tahun baru ini. Kami juga membawa dokter untuk memastikan kesehatan para awak bus. Banyak kecelakaan akibat kesalahan manusia, yang salah satunya akibat awak busnya tidak fit, jadi sulit konsentasi. Karna itu kita bawa dokter, untuk pastikan pelayanan kepada masyarakat semaksimal mungkin," kata Elly.

Saat mengecek kesehatan awak bus, dokter yang ikut dalam rombongan menemukan satu sopir yang tidak boleh berangkat karena hypertensi.

"Ada sopir jurusan Jakarta - Bandung yang terpaksa harus kami larang berangkat. Tensinya 160/100. Tinggi sekali, sangat berbahaya," kata Elly.

Sopir bus Primajasa yang bernama Sofyan tersebut terpaksa digantikan karena kondisinya tidak stabil akibat kelelahan.
"Pak Sofyan ini kelelahan, kurang istirahat. Penutupan jalan tol akibat jembatan Cisomang membuat perjalanan Jakarta - Bandung menjadi panjang.p Terlebih lagi arusnya padat," jelas Elly.

Pihak pool Primajasa segera menempatkan sopir pengganti agar para penumpang bisa tetap berangkat.

Selain meninjau pelaksanaan pemberangkatan penumpang di pool Primajasa Cawang, Elly dan rombongan juga melihat langsung pemberangkatan dari pool bus Damri di Kemayoran.
"Seluruh bus Damri dan juga Primajasa yang dicek hari ini Lulus, semua mendapat surat perintah jalan," ujan Elly.

Selain itu, Elly juga mendatangi gudang suku cadang pool Damri dan Primajasa. Menurut Elly, suku cadang bekas seperti ban harus diurus dengan baik dan diolah kembali untuk mendapatkan keuntungan lain.
"Di luar negeri, ban bekas bisa diolah kembali menjadi gas. Di sini (Primajasa), ban bekas diolah menjadi kursi, tong sampah, dan benda lain oleh pengrajin dari Tasik. Jadi tidak dibuang," papar Elly. (HUMASBPTJ)